Category Archives: Blessings for my soul

Where I can express my thoughts about anything that touched my heart and becoming a blessing to my little world.

Fandom World – The Birth of Soul Sisters

Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara. (Amsal 18:24)

God’s gift: Family, Friendship, Good Meal and Sunny Day

Fandom world was a new thing for me many years ago. I started my first with Twilight followed with few other actors and singer and lasted with Ben Barnes from Narnia in 2010. I made new friends every time I was in a certain fandom world.  Some friends are still in contact but most of them were gone with the wind.

There was a day, when I woke up with grateful heart. All I can remember was how great my life in the hand of my Savior is. Then a struck of memory brought me giggles. I remembered one long funny chat about kidnapping plan that I had with my friends in one WAG.  I am not a good writer, but this one event tickles my heart to write a story about friendship, which born from the Fandom World.

It was Elise, my friend from Twilight fandom who brought me to a group of women, called themselves as “CDrama Lovers.” Not that I agreed to join, but Elise has this kind “do first, report later” principle, that made me entered the group without my consent. But I never then regret it. My first interaction with the members was surprisingly fun and heart-warming. It happened that I was the eldest among the other 11 members. But for sure, my knowledge about Chinese-Korean-Japanese-Thai drama was kindergarten level compare the rest of other members. So being with them was like entering the grand library to seek anything I need to know about drama world.

We spoke a same “love to the Eternal Love of Dream drama” language.  Since it was on-going drama, we were always have long-witty-heart wrenching-chat about each episodes, the casts, the story, and of course how the couple made our heart ballooning. Isn’t it always fun, when you were in fandom world and you can meet friends with the same interest? In only a short time, this group becoming a compliment to my cup of morning coffee, my first to visit after my wake-up every morning- prayer.

Till one day, one of my friend drop an issue about underage girl who joined an adult WAG. We were quite intense in discussing how to handle that kind of situation. Kind of weird actually, how we concerned about an issue outside our WAG. Then, out of the blue, another friend asked us to send our ID, to make sure that no one in our group was underage. It was funny request, but the funnier came after that. I sent my ID, followed by all the others. (And the funniest part, now I have 11 IDs in my HP memory, which always makes me smile every time I remember, the reason I can get them). That was the moment, where the story began.

We flipped from discussing the underage girl to discussing years of birth and marital status. We chatted about some terminologies that not too common and too blatant. Then each member started to share their thoughts and experience towards marriage. A real heart to heart chat, which I never imagined I could experienced in WAG, with friends I never met and only knew each other for few months.  

Following to that, we started to call each other using Chinese term, though not all of us have Chinese blood. My good fellow Nat even made matrix level on how we can use it.

I collected fun facts about our birthdays

Nat (as usual, she’s the wise Zhe Yan) and I (a little assistance to what she’s done) describing us in words. (I put the original in Bahasa Indonesia, because it’s worth of love)

Adding to our craziness, we have tens of thousands of conversations, hundreds of videos, gifs and stickers. And using my power as Da Jie, the ancient deity, I decided we will stick as exclusively 12 members only. I have my own personal egoistic reason and the rest of the members’ just need to agree with my decision (I am too powerful on certain issues).

I’m not saying that I always in my happy mood. To be honest, sometimes I felt frustrated. When I posted about my bias (Dylan Wang Hedi), and no one takes it. (That’s only crumbs of fungurling). Besides that, I have eleven friends, each of whom is a unique, attractive, and sometimes so bloody annoying and shameless too (I quoted this from my Zhe Yan, Nat). But I have something more to be grateful.

We, a group of women who lives in different cities and continents, but always have time to check in. A group of women who shares their love and hate to Chinese-Korean-Japanese-Thai Dramas, actors and actresses, whom proudly call themselves as “Eonnie halu & mesum gaje” (Unclear perverted hallucinating sisters). A group of women who have scattered minds and many times resulting mixed conversations which sometimes difficult to follow but unbelievably caused burst of laughter.

In less than 6 months, we grew into a group of women with a strong bond. We became a group of soul-sisters, who stay awake till late to read, give advises, suggestion and help for whoever poured their frustrations or need assistance. One of the mementos was when we cried all together for one of our sisters who lost her husband, and really tried our best to pamper her. I kept her words and strongly felt it is important to put them in my writing, because those words represent my thoughts about us.

Thank you Da Jie, trust me, you’re all has done more to support me, whether intentionally or unintentionally, you show kindness that really touches my heart, something that I really need right now. Maybe you’re all angels sent by the Lord to help me during my difficult times. God’s length hands to show me He will never leave me alone. Once again, thank you my soul sisters…

The time spent with them, worth every second.  Sometimes I am just reflecting what have I done in my previous life (if I ever had one), so that I am blessed with a pack of wonderful friends? We are not sisters by blood, but sisters by heart. We are soul-sisters, born from Fandom World.


Asnawi vs Asnawi

Selama bertahun-tahun, setelah akhirnya bisa menerima keberadaan saya sebagai keturunan Tionghoa, saya selalu menyebut diri saya sebagai Asnawi – Asli ciNa betaWi, karena saya lahir di Jakarta. Tidak pernah terpikirkan bahwa istilah yang saya bahkan sudah lupa didapat dari mana itu, akan membawa saya pada sebuah pertemuan yang menjadi momentum berharga untuk disyukuri.

Kurang lebih 4 tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang wanita, seorang ibu yang ternyata Asnawi juga. Dan kali ini, bukan karena beliau keturunan Tionghoa, tapi karena memang itulah nama keluarganya. Wiwiek Asnawi. Mbak Wiwiek, begitu saya menyebutnya, seorang wanita Jawa yang entah mengapa, punya karakter kocak yang seringkali membuat saya bisa tertawa terbahak-bahak ketika mendengar celetukan-celetukannya. Ayam geprek beserta sambelnya, kerap membuat saya lupa berat badan. Mbak Wiwiek, memang jago masak. Dan semua masakannya, cocok di lidah saya.

Hari ini, mbak Wiwiek berulang tahun. Tak saya tanya juga, berapa usianya. Buat saya, itu tidak penting. Tapi yang penting adalah, saya bersyukur bisa mengenalnya. Memiliki seorang teman yang berlaku seperti saudara. Menjadi inspirasi dalam perjalanan iman saya.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.  Amsal 17:17

Selamat ulang tahun, mbak Wiwiek. Damai sejahtera dan sukacita melimpah untukmu. Membuatmu tetap sehat, sehingga terus bisa menikmati kasih setia Tuhan Yesus, di sepanjang sisa usia. Tetaplah giat melayani dan menjadi berkat bagi setiap orang, yang mengenal dan berada di dekatmu, melalui kisah-kisah hidupmu yang luar biasa. Tuhan Yesus memberkati.


Sebuah tukilan kotbah, dari Pendeta Nugroho Yudhi Rumpoko, GKI Bintaro Jakarta

MAZMUR 112:1-10

Orang yang hidup dalam kebenaran, seperti apakah dia? Roma 5:7 menggambarkan hal yang luar biasa. Dikatakan tidak ada orang yang berani mati untuk ‘orang benar’, maknanya adalah hidup dalam kebenaran yaitu taat hukum, setia kepada aturan, menolak korupsi, menjaga ucapan dan tindakan, ternyata tidak menarik orang lain untuk mendukungnya bahkan dibela sampai mati. Sebaliknya untuk ‘orang baik’, yaitu orang yang sering menolong, memberi bantuan, memberi sumbangan, memberikan uang, dikatakan ‘mungkin’ ada orang yang bersedia bela-belain sampai mati. Mengapa demikian?

Contoh berikut bisa menjelaskannya: saya memiliki sepupu yang bekerja di Bea Cukai. Dia adalah anak Tuhan yang setia. Dia teguh menolak uang siluman dalam jumlah dan bentuk apa pun. Intinya dia orang yang hidup dalam kebenaran. Persoalannya lingkungan pekerjaannya brengsek dan korup. Dia di ping-pong kemana-mana keliling Indonesia dari daerah pelosok ke pelosok lainnya. Baru beberapa bulan belakangan kembali ke Jakarta itu pun ditugaskan di Tangsel. Kebenarannya mengganggu “pundi-pundi” teman-temannya yang brengsek dan korup tersebut. Jadi, orang benar tidak ada yang mau membela mati-matian, itulah maknanya.

Untuk itu dapat dikatakan ‘susahnya hidup jadi orang benar’. Begitu susahnya sehingga langka untuk ditemukan. Bukti kelangkaan tersebut dapat dilihat dari banyaknya orang menerima penghargaan untuk tindakan kebenaran yang dilakukannya. Hal ini bukan pertanda baik, namun menunjukkan citra buruknya manusia Indonesia yang terpesona oleh kebaikan-kebaikan kecil yang mestinya biasa-biasa saja. Misalkan ada pejabat antri dapat penghargaan, ada pejabat membersihkan tumpahan kopinya sendiri dapat penghargaan, ada orang kaya membuang sampah pada tempatnya dapat penghargaan, sekali lagi ini bukan bagus tetapi menunjukkan betapa langkanya orang benar di negeri ini.

Memang tidak mudah menjadi orang benar, sebab tantanganya berat. Bandingkan hal ini, beranikah kita mengatakan bahwa Durian itu tetap Durian saat semua orang menyebutnya Rambutan? Tetapkah kita bersedia waras saat semua orang menjadi gila dan kita satu-satunya yang waras kemudian ada yang bertanya “Yang gila kita atau kamu?” menantang bukan?

Untuk itu Firman Tuhan mengajarkan apa agar kita tetap hidup dalam kebenaran?

Pertama mengarahkan diri kepada Tuhan, bersumber dari ayat 1. Terus mengarahkan diri sampai kita “otomatis” mengerti kehendak dan kemauanNya. Sampai disebut “ahlinya” Tuhan. Bandingkan para Pilot yang diperlengkapi Buku Panduan Kejadian Abnormal. Buku itu terdiri dari dua jilid dan selalu berada di Cockpit pesawat dengan warna khas biru cerah. Memang saat ini sudah jarang sebab diganti Tab. Buku-buku tersebut bisa setiap saat di baca oleh Pilot maupun wakilnya. Namun dalam keadaan darurat mereka tidak mungkin lagi membaca-baca buku itu sebab akan terlambat. Pilot dan wakilnya sudah semestinya hapal dan paham apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.

Sebagai orang beriman sudah semestinya mengenal Tuhan sedemikian rupa sehingga “ahlinya” dengan perintah dan kehendakNya. Sehingga saat dibutuhkan dalam kondisi apa pun kita sudah mengerti apa yang harus dilakukan.

Kedua diberkati secara duniawi, bersumber dari ayat 2-3. Tuhan menyediakan berkat dan penghargaan saat kita bersedia hidup dalam kebenaran. Berkat dalam bentuk karunia duniawi. Dikatakan kita akan menerima keturunan anak-cucu yang sejahtera, kekayaan dan harta. Hal ini sebenarnya masuk akal dan sederhana saja. Sebagai contoh ketika kita punya usaha atau bisnis dan dikerjakan dengan baik dan benar pasti, pasti kita tetap dapat untung dan tidak akan jatuh rugi, benarkah? Pasti benar. Hanya bedanya yang curang bisa dapat keuntungan lebih banyak, tapi dengan cara curang! Yang curang pada akhirnya akan mendapatkan akibatnya. Bukankah kita lebih suka untung sewajarnya dikemudian hari kita tetap menikmati makan enak tidur nyanyak. Mana yang menjadi pilihan kita?

Dalam Roma 8:37 terdapat istilah ‘lebih dari pemenang’. Unik bukan? Pemenang biasanya adalah yang terbaik namun Firman Tuhan mengatakan ada yang lebih baik dari seorang pemenang. Apa artinya? Ternyata seperti yang kita ketahui bahwa orang bisa menghalalkan semua cara untuk menjadi pemenang, termasuk dengan kecurangan. Kemenagan semacam itu adalah kemenangan semu, pura-pura menang. Tuhan menghendaki kita menang dari pemikiran, proses hingga tindakan yang benar. Sehingga kemenangan kita dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi orang lain. Ini kemenangan yang sejati, inilah yang dimaksud lebih dari pemenang.

Ketiga siapa menabur dia akan menuai, bersumber dari ayat 3-6. Hukum tabur tuai disini bukan tabur tuai yang ‘naif’ dimana siapa menabur pasti menuai. Sebab pada kenyataannya para petani bisa mengalami puso dan gagal panen. Namun para petani tidak berhenti menanam. Sama dengan kehidupan kita, jangan berhenti berbuat baik, karena kebaikan pada akhirnya akan memberikan kebaikan kepada kita, walau tidak selalu sesaat kebaikan itu dapat dirasakan.
Apalagi jika ada orang yang kelakuannya seperti iblis dimana kebaikan dibalas dengan kejahatan, sebab wajarnya manusia dimana ada kebaikan ia akan membalas dengan kebaikan dan itu manusiawi. Memang yang paling istimewa adalah Tuhan kita yang membalas kejahatan dengan kebaikan. Mungkin kita tidak mampu sesempurna Tuhan, namun setidaknya kita menjadi manusia pada umumnya yang membalas kebaikan dengan kebaikan.

Hal ini nampak dari ayat-ayat tersebut diatas, contohnya ayat 3 “…kebajikannya tetap untuk selamanya” dalam ayat 4 ditunjukkan hasilnya “Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar” disatu sisi orang benar adalah orang yang “pengasih dan penyayang orang yang adil” dan ayat 5 hasilnya “Mujur orang yang menaruh belas kasihan…”. Jadi teruslah berbuat kebaikan, sebab berkat Tuhan tidak akan berhenti.

Keempat percaya diri, bersumber dari ayat 7-8. Kata-kata mutiara berani karena benar adalah nasihat yang penting. Untuk apa takut kalau kita benar namun banyak orang “gila” diluar sana yang lebih berani walau mereka salah. Tentu kegilaan semacam itu akan menerima ganjarannya sendiri.

Fakta sejarah membuktikan bahwa kejahatan akan diganjar dengan setimpal, maka jangan takut menunjukkan kebenaran. Walau kebenaran itu seperti obat, bahkan seperti suntik yang sangat dibenci oleh semua orang sakit. Namun seperti obat yang pahit dan suntik yang menyakitkan ternyata awal terjadinya kesembuhan. Tunjukkan sikap sebagai orang benar sebab keadaan yang lebih baik ditentukan oleh orang-orang yang seperti itu. Amin