Fenomena Mata Panda : Kegagalan orangtua yang ditimpakan ke anak-anak

Belakangan viral banget, postingan para ibu yang “membanggakan” keberhasilan pake trik Mata Panda ke anak-anak mereka yang katanya kecanduan maen HP. Entah kenapa, sebelum akhirnya ramai tulisan-tulisan dari para psikolog, yang meminta agar orangtua berhenti memakai trik mata panda, gw secara pribadi udah ga seneng banget sama trik kayak gitu.

1. Membohongi anak demi membenarkan diri sendiri.
Kalau dibalik posisinya, apakah para orangtua, khususnya para ibu, bisa bilang,”gw ga kecanduan HP kok. Anak gw aja yang kecanduan.” Apalagi para ibu yang medsosnya update setiap saat. Apa kalian mau dikasi mata panda juga? Ga sekali dua kali lah.. gw jalan ke mall, ngliat para ortu sibuk dengan HP sementara anak-anak dibiarkan kesana kemari. Ato anak-anak dikasih HP juga biar ga ganggu “mommy & daddy” maen HP. Mo bilang, bisa aja mereka lagi urus kerjaan, makanya fokus ke HP.. tetep aja lah, megang HP ada batas waktunya juga kok. Apalagi kalo lagi “family time” Mosok mo maen HP terusan..

Didiklah anak-anak dengan kebohongan, jangan kaget suatu hari, kita akan menuai kebohongan dari mereka.

2. Children are great imitator. So give them something great to imitate.

Sebagai peniru terhebat, anak-anak hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Artikel dari CNN Indoenesia ini sudah cukup buat mewakili apa yang gw pikirkan. Anak-anak dapet dari mana HP? kalo bukan dikasi sama orangtuanya. Anak dikasi HP biar mau makan. Anak dikasi HP biar anteng. Giliran anak kecanduan, anak yang dihukum dengan mata panda. Padahal, gw kenal temen-temen gw yang juga punya anak balita yang ga kecanduan HP. Orangtua menyediakan energi ekstra untuk memberikan aktivitas beragam selain main HP. Kenapa juga anak maen HP karena niru orangtuanya maen HP, trus anaknya yang dikasi mata panda biar berenti maen HP.

3. Kebanyakan yang diposting, foto anak-anak bermata panda dengan ekspresi nangis atau ketakutan. Apa sih yang ada dipikiran para orangtua yang majang foto anak-anaknya dengan kondisi kayak gitu? Kepikiran ga sih dampak psikologis jangka panjang terhadap anak-anak itu? Public Health Malaysia sampai posting di FB minta orangtua berhenti melakukan trik itu. Saking trik itu bisa menimbulkan luka psikologis yang panjang terhadap anak-anak.

Rasanya, anak-anak hanya jadi korban kegagalan kita sebagai orangtua dalam menerapkan disiplin atas diri kita sendiri. Kita yang ga disiplin, anak-anak yang harus dikasi Mata Panda. Buat gw, ini fenomena yang sama sekali ga bisa dibenarkan.

Links:

Parents Warned Not to Copy Viral “Eyeshadow” Prank Because It May Traumatise Their Kids

Antara IQ dan Kepintaran

Kisah inspiratif, bisa datang dari siapa saja, kapan saja, di mana saja.

Hari ini, gw ktemuan (lagi) sama salah satu sepupu dari pihak almarhumah nyokap gw, untuk yang ketiga kalinya. Dan baru kali ini, gw bisa foto bareng sama dia, karena ngerasa udah waktunya, gw ngangkat tulisan tentang dia. (udah ijin ya Kie..)

Tulisan gw kali ini terinspirasi saat gw pertama kali janjian ketemu sama Okie, sepupu gw ini. Awalnya mau ngobrol prospek kerjaan buat gw dan bisnis start up yang lagi dia rintis. Duduk di sebuah resto dimsum di Grand Indonesia,(jujur, gw baru sekali ini masuk GI, untunglah gw ga ilang di dalem), ngobrol panjang lebar tentang visi dan rencana-rencana sepupu gw yang bikin gw terpukau. Di kepala gw doang gw bisa komen.. “Ni anak bright amat ya..” btw, dia belasan taon di bawah gw umurnya.. (kali-kali ada yang nanya.).

Akhirnya tercetuslah pertanyaan kepo gw, “Kie, IQ loe brapa sik?” Dengan muka lempengnya (muka lempeng dalam arti sesungguhnya..) dia bilang “waktu TK, 95 sih cie.” Gw bengong. 95? Terus dia nyambung “tapi saya tu beruntung, karena koko-koko saya (dia punya 2 kakak laki-laki yang gw rasa sama pinternya kayak dia), ngajarin saya macem-macem. Cara baca jam, hitung ini, hitung itu. Jadi pas saya masuk TK, saya udah lebih banyak tau duluan dari yang lain. Dan guru pikir saya pintar.”

Okeeee… terus dia nyambung lagi ““Karena guru selalu bilang saya pintar, dan memperlakukan saya secara istimewa sebagai anak pintar, saya akhirnya percaya kalau saya memang pintar.” Hnah ini dia gongnya! Dan dia emang pintar beneran sih pada akhirnya..

T’rus dia nambahin “Saya percaya setiap manusia punya kepintarannya sendiri-sendiri. Hanya pintarnya dimana, bisa jadi setiap manusia beda-beda. Tapi sistem pendidikan kita cenderung mengesampingkan anak yang ‘lambat’ karena dianggap bodoh atau kurang pintar.” Ini nohok banget. Orang tua dan guru, kadang tidak selalu berhasil melihat kemampuan seorang anak hanya karena dia lambat belajar atau lambat melakukan sesuatu.

Yang menarik dari percakapan dengan sepupu gw ini, adalah bagaimana seorang anak yang di masa kecilnya dibilang pintar karena dia lebih tahu dari anak lain, lalu diperlakukan sebagai anak pintar. Dan perlakuan istimewa yang dia terima, membuat dia percaya kalau dia pintar. Dan ternyata, itu mempengaruhi IQ di masa dewasanya. Hasil tes IQ setelah dia mulai bekerja, selalu ditulis “Superior”

Ini jadi catatan penting yang pengen gw share buat para orang tua, khususnya yang masih punya anak balita. Bahwa setiap anak pintar. Perlakukan mereka sebagai anak pintar. Lihatlah bagaimana mereka akan bertumbuh, dengan percaya diri bahwa mereka pintar.

Catatan juga buat kita semua, termasuk gw sendiri.. orang pintar, bukan diukur dari IQ semata, tapi juga dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki seseorang. Informasi dan pengetahuan yang diketahui lebih dulu dari orang lain, membuat seseorang lebih “pintar” dibanding orang yang lain.

“Knowledge makes power” Banyak-banyaklah membaca, banyaklah berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki aura positif dan membangun. Pakailah gadget untuk menambah pengetahuan akan hal-hal yang bermutu. Biar jadi orang “pintar” kayak sepupu gw ini..

Selamat ulang tahun, teman hidupku

Awalnya ikut-ikutan posting foto #10yearschallenge di FB, tapi karena aku bukan orang yang cukup pede untuk posting foto selfie, jadinya memilih majang foto bareng suami pakai hashtag #20yearschallenge.

Dari semua komentar yang diberikan, ada satu yang komentar yang menggelitik dan membuatku menanggapi..

“Wah, tahun 98 tnyta Pak Glen ganteng, malah si Kak Santi cupu loh… foto jadul ga bs boong..”

yang ku tanggapi dengan,

“ga diterusin bang… kalo foto tahun 2018….

Tak diduga, balasan komentarnya membuatku tertawa terbahak bahak, sekaligus membuatku merenungkan tentang sosok suamiku. Teman hidup yang menemaniku sejak Februari 1998.

Aku mengingat seperti apa diriku sebelum menikah dengannya. Aku mengingat betapa rendahnya rasa percaya diriku. Selama bertahun tahun, aku sulit menerima kenyataan kalau aku keturunan Tionghoa. Tidak cantik, tidak pintar, tidak kaya, tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri. Aku sangat mudah tersinggung, karena rendahnya penghargaanku pada diriku sendiri.

Lalu, aku teringat juga, suatu hari lebih dari 20 tahun yang lalu, beberapa minggu setelah aku mulai akrab dengannya, aku menegaskan kepada temanku, dalam perjalananku menuju ke kantor, “gue harus jadian sama ni orang, baik banget dia..” Sepertinya Tuhan tahu persis, laki-laki seperti apa yang aku butuhkan. Aku, akhirnya memang menikah dengannya.

Menjalani pernikahan lebih dari 20 tahun, sama seperti kebanyakan pasangan yang lain, kami menikmati pasang surut, pertengkaran, perdebatan, keanehan-keanehan yang baru terlihat setelah menikah bertahun-tahun, hal-hal kecil yang memancing emosi. Tapi jika aku menengok ke belakang, memandang diriku sebelum menikah dengannya, lalu melihat diriku sekarang, aku tak akan pernah bisa berhenti bersyukur, karena Tuhan sudah berkenan memberikan Glen Stevano Tanihatu, menjadi suamiku.

Sekarang aku bisa dengan mudahnya menanggapi candaan soal “cina” dengan hati ringan. Aku terus menerus belajar menghargai diriku sendiri, sebagaimana suamiku, menghargai ku sampai aku “lupa” kalau aku “cina”. Rasanya, suamiku mengenalku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.

“Selama 10 tahun Pak Glen melupakan dirinya demi merawatmu kakakku… suami yang luarr biasa pengorbanannya….”

Kata temanku itu.

Suamiku bukan laki-laki sempurna. Dia punya banyak kekurangan. Namun bagiku, dia yang terbaik. Suamiku orang yang memegang komitmen dan setia pada hal-hal kecil. Laki-laki sederhana, yang terkadang rumit dalam berpikir. Laki-laki yang teramat sangat menikmati hubungannya dengan Tuhan. Mungkin temanku bercanda dengan komentarnya. Bisa juga dia serius. Tapi apapun maksud temanku itu, bahwa Tuhan memberiku kesempatan untuk memiliki pasangan yang sepadan, pasangan yang dianugerahi wibawa Ilahi, sosok suami dan ayah yang melupakan dirinya, demi merawatku dan juga anak semata wayang kami, memberikan kepadaku, kebahagiaan yang sulit diukur. Tidak banyak yang bisa kuucapkan untuknya, di hari ulang tahunnya yang ke 50 ini.

Selamat ulang tahun, teman hidupku.. Terima kasih untuk semua waktu yang kau berikan. Setiap kata penyemangat yang kau ucapkan dan setiap pelukan kasih yang menghiburkan. Hanya Tuhan sajalah, yang mampu memberikan yang terbaik dan membalas semua kasih sayangmu untukku..

Efesus 5: 33

“Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”